Banjir Bandang di Lembata, 20 Meninggal, 68 Hilang

Pemerintah Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, menyatakan setidaknya 20 meninggal dunia akibat peristiwa banjir bandang yang melanda 14 desa di kecamatan Ile Ape dan kecamatan Ile Ape Timur, Minggu, 4 April 2021.

Wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langoday kepada VOA, Senin (5/4), mengatakan banjir bandang itu terjadi sekitar pukul 03.00 WITA di saat warga umumnya sudah tertidur di rumah mereka.  

“Jadi batu-batu yang ada di gunung itu terbawa semua sampai ke kampung-kampung dan ke pantai. Jadi rumah-rumah warga yang terkena banjir, batu-batu, pohon yang tumbang itu terbawa semua ke pantai, ke laut termasuk orang-orangnya. Nah banyak penduduk yang diperkirakan tertimbun di material longsoran dan banyak juga yang kemungkinan hanyut ke laut,” jelas Thomas Ola Langoday ketika dihubungi dari Palu.

Menurutnya, hingga saat ini masih ada 68 warga yang hilang dan masih dalam pencarian. Dijelaskannya cuaca buruk menyulitkan upaya pencarian warga yang terseret ke laut dalam banjir bandang itu. “Sampai siang hari ini masih dilakukan pencarian tetapi ombak besar sekali, jadi kita tidak bisa mencari di laut. Ketinggian ombak bisa dua meter,” kata Thomas.

Untuk warga yang luka-luka akibat banjir bandang sudah dirawat tiga puskesmas dan satu rumah sakit. 40 orang dirawat di puskesmas Lewoleba, enam orang di puskesmas Waikupang, dan 40 lainnya lagi di rawat di sejumlah rumah sakit.

Thomas menjelaskan jumlah pengungsi saat ini yang terdata berjumlah sekitar 332 jiwa, mereka sangat membutuhkan makanan, pakaian, obat-obatan, bantuan medis, pembalut, masker dan air minum.

Selain Kabupaten Lembata, BNPB dalam siaran pers hari, Senin (5/4), melaporkan bencana banjir juga terjadi di Kabupaten Sumba Timur, NTT pada Minggu (4/4), pukul 10.00 WITA. Meluapnya sungai akibat hujan  intensitas tinggi selama beberapa hari ini telah merendam empat kecamatan, yaitu Kecamatan Kambera, Pandawai, Karera dan Wulawujelu.

BPBD Kabupaten Sumba Timur menginformasikan sebanyak 54 kepala keluarga (KK) atau 165 jiwa mengungsi, sedangkan 109 KK atau 475 KK terdampak.

Sementara angin kencang, longsor, banjir rob dan gelombang pasang di  Kota Kupang, NTT, menimbulkan dampak pada 743 KK atau 2.190 warga. Sedikitnya 10 rumah warga mengalami rusak sedang dan 15 titik akses jalan tertutup pohon tumbang.

BPBD Kota Kupang bersama dinas terkait lain telah melakukan upaya penanganan darurat di lokasi bencana.

BNPB juga menerima laporan terjadinya bencana di Kabupaten Malaka Tengah dan Ngada. Angin kencang terjadi di dua kecamatan di Kabupaten Ngada. Desa terdampak, yaitu di Kelurahan Kisantara, Lebijaga, Bajawa, Tanalodu (Kecamatan Bajawa) dan Kelurahan (Riung).

Dampak dari insiden angin kencang terdiri enam KK terdampak dan satu luka berat. Sedangkan kerugian berupa rumah rusak sedang dua unit dan rusak berat empat unit, gedung pengadilan rusak sedang satu unit, kapal tenggelam satu unit dan enam titik ruas jalan tertutup pohon tumbang. 

Raditya Jati Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB dalam siaran pers secara daring, Senin (5/4) sore, melaporkan jumlah korban tewas dampak bencana di NTT telah mencapai 68 orang. Sebanyak 44 korban meninggal berada di Kabupaten Flores Timur, 11 di Kabupaten Lembata, dua di Kabupaten Ende dan 11 korban meninggal di Kabupaten Alor. [yl/em]