Disorot Netizen, Xiaomi Akui Upaya Rebranding Mereka Terlalu Mirip Logo Lama

Produsen ponsel dan piranti teknologi Xiaomi sejak 2019 membuat desain logo baru untuk rebranding perusahaan. Ketika akhirnya logo baru itu diperkenalkan ke publik awal April lalu, netizen terkejut. Apanya yang baru dari logo perusahaan Tiongkok ini?

Harus diakui, logo baru untuk rebranding Xiaomi cuma beda karena kotak yang menaungi huruf ‘Mi’ tidak lagi pakai ujung yang kaku. Namanya netizen, komen mereka pun kejam-kejam sama kemiripan logo ini. Simak saja komen-komen orang di reply twit pengumuman ini. Sedih juga sih, pabrikan ponsel terbesar sedunia setelah Apple dan Samsung kena olok-olok akibat logo baru, yang ga baru-baru amat juga.

CEO Xiaomi, Lei Jun, turut mengakui perubahan logo ini nyaris tak signifikan. “Kayaknya orang-orang kecewa sama logo baru kami ya?” tanyanya retoris di postingan pekan lalu. “Desainer logonya menceritakan filosofi perubahan ini bukan sekadar soal fisik, tapi lebih di kepribadian dan pola pikir internal perusahaan menghadapi tantangan ke depan.”

Desainer logo ini adalah seniman Jepang Kenya Hara, yang reputasinya amat ternama di bidang desain grafis. Hara juga saat ini menjabat sebagai pengarah kreatif MUJI. Konsep logo baru Xiaomi itu dijuluki “Alive”, menggambarkan semangat anyar Xiaomi menyongsong persaingan di pasar teknologi.

Menurut keterangan tertulis, Hara dan timnya mempelajari berbagai bentuk lingkaran maupun persegi pakai perhitungan matematis. Tujuannya untuk menentukan mana wujud yang paling menunjukkan keseimbangan dan “menggambarkan konsep ‘alive’.”

Lengkung huruf ‘M’ di ‘Mi’, menurut Hara juga diubah sedikit supaya sesuai dengan konsep logo baru. Namun, tentu saja, perusahaan boleh berusaha, tapi meme yang menjadi pengadilnya.

Penjelasan Xiaomi soal logo baru, yang tidak baru-baru amat, penuh jargon filosofis. Tapi penjelasan canggih macam ini kerap dipakai perusahaan teknologi lain ketika memperkenalkan rebranding.

Contohnya Google pada 2015, ketika menampilkan logo baru huruf ‘G’ yang tidak kaku, menyatakan filosofi perubahan itu didorong oleh “keindahan faktor matematis dari bentuk geometris yang mirip font buku-buku pelajaran sekolah.”

Sementara Facebook, saat mengumumkan logo baru pada 2019, mengklaim ada perubahan warna secara halus, menggambarkan betapa raksasa medsos itu punya sekian lapis perusahaan induk. Logo itu diluncurkan saat Facebook menghadapi investigasi dugaan monopoli dari pemerintah AS, dengan risiko sanksi pemecahan korporasi. Sampai sekarang investigasi itu masih berlangsung.

Follow Viola Zhou di Twitter.