Pertama Kali Dalam Satu Dekade, Harga Tembaga Capai $10.000

Harga satu ton tembaga, Kamis (29/4), untuk pertama kalinya sejak Februari 2011 melampaui $10.000 berkat permintaan yang kuat di China dan melemahnya nilai dolar. 

Logam industri itu dianggap sebagai barometer untuk kesehatan umum ekonomi sehingga para analis pasar menjulukinya Dr. Copper. 

Harganya naik lebih dari 25 persen sejak awal tahun karena ekonomi global mulai pulih dari pandemi Covid-19. 

Satu ton tembaga menyentuh $9.963 pada perdagangan siang di pasar London Metal Exchange setelah sempat turun dari penjualan tertingginya dan hampir melampaui penjualan tertingginya pada 15 Februari 2011 dengan $10.190 per ton.

Maret lalu, harga terendahnya $4.371 per ton ketika pandemi menjadi pukulan besar bagi perekonomian. 

Daniel Briesemann, analis Commerzbank, mengatakan bahwa harga yang lebih tinggi masih memungkinkan karena tembaga akan berperan penting dalam strategi jangka panjang berbagai negara untuk dekarbonisasi. 

Anna Stablum, analis pada MAREX Spectron, mengatakan naiknya harga tembaga “didukung oleh melemahnya dolar”. 

Nilai dolar turun 2,5 persen terhadap sejumlah mata uang pada April, sementara pembeli yang menggunakan mata uang lain yang nilainya meningkat terhadap dolar, bersuka cita.

Neil Wilson dari Markets.com melihat kenaikan harga tembaga karena naiknya permintaan, terutama dari China, yang menyerap lebih dari setengah produksi dunia, dan juga masalah pasokan dari pemasok terbesar dunia, Chili. 

China,tahun lalu saja, mengumumkan permintaannya akan tembaga diperkirakan naik 13, menurut kelompok studi tembaga internasional antarpemerintah (ICSG). 

Tren itu tampaknya akan berlanjut setelah Beijing sebelumnya bulan ini mengumumkan rekor lonjakan 18,3 persen pada pertumbuhan ekonomi kuartal pertama. 

Sementara itu, pasokan dari Chili terus terhambat oleh demonstrasi selama berhari-hari oleh pekerja di pelabuhan utama dan tambang-tambang tembaga di negara itu terkait kebijakan pensiun. [my/ka]