Tanah Longsor, Banjir di Bagian Timur Indonesia Tewaskan 55 Orang

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Senin (5/4), melaporkan sejumlah bencana akibat hujan lebat di Indonesia timur telah menewaskan sedikitnya 55 orang dan menyebabkan ribuan kehilangan tempat tinggal. Lebih dari 40 orang lain masih hilang.

Tanah longsor dari perbukitan menimpa puluhan rumah di Desa Lamenele, selepas tengah malam di pulau Adonara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lenny Ola, kepala bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Flores Timur, seperti dikutip Associated Press mengatakan tim penyelamat menemukan 38 jenazah dan sedikitnya lima orang terluka.

Menurut BNPB, banjir bandang menewaskan sedikitnya 17 orang di tempat lain dan sedikitnya 42 orang hilang.

Kapusdatin dan Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, mengatakan upaya penyelamatan terkendala listrik yang padam, jalan-jalan yang tertutup lumpur tebal dan kotoran, serta wilayah yang terpencil di pulau yang dikelilingi laut berombak dan gelombang tinggi.

Ola mengatakan tiga jenazah ditemukan setelah terhanyut karena banjir di desa Oyang Bayang, di mana 40 rumah juga hancur. Ratusan orang lari menyelamatkan diri dari rumah-rumah yang terendam. Sebagian rumah hanyut dibawa banjir.

Di desa lain, Waiburak, tiga orang tewas dan tujuh hilang setelah hujan lebat semalaman menyebabkan sungai-sungai meluap, membawa lumpur ke banyak wilayah di Flores Timur. Empat orang yang terluka kini sedang dirawat di sebuah klinik setempat.

Raditya mengatakan jumlah korban tewas mencapai 55 orang pada Senin pagi (5/4) setelah hujan menyebabkan lahar dingin tumpah dari lereng gunung berapi Lewotolok dan mengenai beberapa desa.

Bencana di pulau Lembata itu menewaskan sedikitnya 11 orang. Hampir 16 orang lain masih terperangkap di bawah lahar dingin berton-ton, kata Raditya. Lahar itu tersisa setelah gunung berapi itu meletus pada November.

Ratusan orang masih terlibat dalam upaya pencarian pada Minggu (4/4) malam, kata Raditya dalam konferensi pers. Setidaknya enam desa terkena dampak banjir bandang dan tanah longsor yang merusak lima jembatan di pulau itu, imbuhnya.

Foto-foto yang dirilis BNPB memperlihatkan tim penyelamat, personel polisi dan militer membawa para warga ke tempat-tempat penampungan.

Pihak berwenang masih mengumpulkan informasi mengenai jumlah korban dan besarnya kerusakan di wilayah-wilayah yang terdampak, kata Raditya. Banjir parah juga dilaporkan di Bima, provinsi Nusa Tenggara Barat. Akibatnya, hampir 10.000 orang terpaksa mengungsi. [vm/ft]