Wasit Transgender di Israel Torehkan Sejarah Baru Sepakbola

Seorang wasit profesional di Israel baru saja mengumumkan perubahan statusnya sebagai transgender. Dia tetap menjalankan peran sebagai wasit Liga Primer Israel, sehingga menjadi transgender pertama di dunia yang menjalankan peran tersebut di liga resmi kasta tertinggi.

Sapir Berman, 26 tahun, mencatatkan sejarah tersebut ketika menjadi wasit utama pertandingan antara Beitar Jerusalem lawan Hapoel Haifa pada 3 Mei 2021.

Photo: JACK GUEZ/AFP via Getty Images

Foto oleh JACK GUEZ/AFP via Getty Images

Berman mendapat sambutan hangat dari para pemain dan otoritas sepakbola Israel. Suporter pun tidak mempersoalkan pengumuman sang wasit, bahwa dia kini menjadi perempuan.

“Adanya sosok wasit transgender ini merupakan langkah awal yang sangat penting,” demikian cuitan resmi dari akun PSSI-nya Israel. “Sapir, kami bangga bisa mencatatkan sejarah bersamamu.”

Menurut laporan surat kabar Haaretz, Berman sudah mulai dijuluki dengan panggilan “bu” oleh para pemain dalam debutnya sebagai wasit trans. “Para pemain dari kedua klub ternyata ingin menghargai proses yang saya jalani,” ujar Berman. “Saya bersyukur mereka memandang saya sepenuhnya perempuan.”

A Hapoel Haifa fan holds up a sign supporting Berman prior to the game. Photo: JACK GUEZ/AFP via Getty Images

Salah satu suporter Hapoel Haifa memajang poster berisi dukungan bagi Berman. Foto oleh JACK GUEZ/AFP via Getty Images

Berman bukan wasit transgender pertama di dunia. Rekor itu dipegang oleh Lucy Clark, wasit asal Inggris, yang mengumumkan statusnya sebagai trans dan menjalankan tugas sebagai wasit mulai 2018. Tapi, berbeda dari Berman, Clarke lebih sering mengadili pertandingan liga-liga amatir di Inggris. Berman karenanya, menjadi transgender pertama yang resmi mengadili pertandingan di kompetisi tertinggi suatu negara.

Sepakbola lelaki, sayangnya, bukan kancah olahraga yang ramah bagi komunitas LGBTQ. Di Inggris, ambil contoh, survei lembaga Stonewall pada 2016 menunjukkan lebih dari 72 persen suporter pernah melakukan atau menjadi saksi tindakan homofobik di stadion. Pemain-pemain Premier League di Inggris, juga tidak ada yang secara terbuka mengaku sebagai gay atau transgender. Ada asumsi bahwa pengakuan orientasi seksual macam itu bisa merugikan karir, bahkan berujung pada bullying suporter.

Pemandangan agak berbeda muncul dari kancah sepakbola perempuan. Di Liga Premier Inggris untuk atlet perempuan, sudah banyak pemain yang secara terbuka mengakui mereka lesbian.

GettyImages-1232671098.jpg

Kapten klub Beitar Jerusalem Idan Vered melihat kuku sang wasit Sapir Berman yang di-manicure sebelum kickoff. Foto oleh JACK GUEZ/AFP via Getty Images

Jeffrey Ingold, juru bicara Stonewall yang sering meneliti isu-isu seputar persepsi publik terhadap LGBTQ, mengapresiasi kancah sepakbola Israel karena mendukung Berman tetap bertugas jadi wasit. “Pengalaman Sapir Berman pastinya akan mengirim pesan positif kepada anggota komunitas LGBTQ di seluruh dunia, bahwa mereka tetap punya tempat di sepakbola yang selama ini dikenal sangat maskulin,” ujar Ingold.

“Anak-anak muda lesbian, gay, biseksual, atau trans jadi percaya bahwa mereka bisa bangga dengan identitasnya dan semoga sepakbola semakin inklusif di masa depan.”